Bagaimana Mimpi Merubahku
Januari 22, 2015
Aku adalah seorang
remaja yang akhir tahun ini genap berusia 17 tahun. Mungkin tidak seperti kebanyakan remaja lain
yang setiap hari hanya bermain main dan tidak tahu mau jadi apa kelak, aku merasa
aku sangat pasti dengan apa tujuanku kedepannya. Yaitu menjadi seorang
pesepakbola.
Mengapa aku memiih
menjadi pesepakbola ? mimpi itu tidak muncul dengan sendirinya. Ayahku yang mantan
pemain sepakbola-lah yang menuntunku menuju mimpi itu. Ayahku yang membuatku
sudah berteman dengan lapangan hijau bahkan sejak aku belum fasih berbicara. Kecintaanku
pada sepak bola tidak bisa kugambarkan lebih dalam lagi. Sepak bola bukan
sekedar olahraga bagiku.
“Ari..bangun...
sudah jam 5 pagi, ayo ikut ayah lari pagi”
Begitulah, hampir
setiap hari ayahku membangunkanku sekedar untuk lari pagi. Kesannya dia
mengajakku lari pagi bersama, padahal kenyataannya hanya aku yang lari. Dia
bilang aku perlu menjaga staminaku agar tidak mudah loyo di pertandingan. Dan
begitulah kegiatanku setiap pagi dimulai, sebelum aku beranjak pergi sekolah.
Di sekolah, aku
termasuk murid yang populer dan dikenali. Bukannya terlalu percaya diri. Tapi
memang kenyataan. Aku menjadi populer juga karena sepak bola. Aku striker
andalan tim sepak bola sekolahku yang sudah terbukti membawa sekolah tercintaku
ini menyabet juara di berbagai pertandingan sepak bola maupun futsal. Dan
karena itulah, teman-temanku sangat mengandalkanku. Dan jangan lupakan
keberadaan adik tingkat yang sering diam diam mengirim surat cinta di lokerku
atau sekedar melirikku dan berbisik girang ketika aku lewat.
Menurutku hidupku
selama 17 tahun sudah sempurna, semua berkat sepak bola. Hingga hadirlah hari
itu. Hari dimana mungkin bisa dibilang bahwa sepak bola tidak bisa membantuku
sama sekali.
“Pak, saya mengerti
sekali bahwa Ari ini adalah anak yang sangat berbakat di bidangnya, sepak bola.
Tapi tetap pak, mempunyai banyak piagam penghargaan tidak bisa membantunya naik
kelas jika nilai Ari tetap seperti ini. Sekolah ini bukanlah sekolah khusus
untuk sepak bola. Ari tidak bisa mencapai nilai minimal di hampir semua mata
pelajaran wajib. Padahal itu adalah mata pelajaran yang akan diujikan untuk
Ujian Nasional kelak. Oleh karena itu pak, sebagai wali kelas, saya hanya bisa
mencoba menghimbau kepada bapak untuk setidaknya membantu Ari agar tetap fokus
pada pelajaran sekolah. Mungkin bisa dengan mengurangi jam latihan sepak
bolanya dan diganti dengan belajar atau setidaknya mengikuti les tambahan”
Ayahku dipanggil ke
sekolah. Dan sepertinya Bu Rina, guru waliku sudah berhasil mempengaruhi
ayahku. Aneh. Sejak itu, ayahku memberhentikan ku dari SSB tempatku berlatih
sepak bola sepulang sekolah juga mendaftarkanku di tempat bimbingan belajar.
Dan itu semua dia lakukan tanpa berdiskusi dahulu denganku. Aku tidak suka
sikap ayahku yang seperti itu. Bukannya dia tahu tentang mimpi besarku menjadi
pesepakbola.
Pagi keesokan
harinya, ayah tidak membangunkanku untuk lari pagi seperti biasanya. Aku
menemukan dia sedang membaca koran dan menyruput kopi panas nya disamping kolam
ikan di belakang rumah.
“Kenapa ayah
bertindak semau ayah ? bukankah setidaknya ayah meminta pendapatku untuk
masalah ini ?” aku berkata secara refleks dengan nada agak meninggi pada
ayahku. Setidaknya itu menggambarkan bagaimana perasaanku.
“Sudahlah ar, ayah
melakukan semua ini demi masa depanmu juga. Sudah lakoni saja apa yang ada
sekarang. Kau tahu sendiri kan, tidak ada gunanya kau perdebatkan ini dengan
ayah”
Dengan nada dingin
ayahku mengakhiri perdebatan yang sama sekali tidak bisa disebut sebagai debat
itu. Ayah memang seperti itu, selalu tegas dengan apa yang menjadi
keputusannya. Bagai hakim mengetok palunya, keputusan itu bulat dan tidak bisa
digugat.
Aku memutuskan diam
dan pergi ke sekolah dengan wajahku yang tertekuk, tanpa pamitan atau mencium
tangan seperti biasanya. Biar, biar ayah tahu anaknya ini sedang marah.
Di sekolah, seperti
biasanya. Pelajaran di kelas kulalui dengan mengantuk dan tidak tahu apa yang
disampaikan guruku. Bukannya tidak tahu, mungkin lebih tepat disebut bahwa aku
tidak mau tahu. Terserah. Ditambah perasaanku yang sedang tidak karuan ini, aku
membayangkan dan membatin dalam hati “mungkin enak kali ya lari atau sekedar
dribble bola, hehe”. Dari situ muncul ide di kepalaku utuk membolos jam
pelajaran terakhir. Daripada aku terus mengantuk dan membuang waktuku, mending
aku latihan bola. Mengingat aku tidak bisa lagi latihan di SSB biasanya aku
bermain, semakin kuat keinginanku untuk bolos. Aku mengajak Mada dan Rusdi,
kawan setiaku. Dan tanpa babibu mereka setuju untuk ikut. Tidak lupa kuajak
anak kelas sebelah dan beberapa kawan
satu ekskul sepak bola. Lengkap. Aku bersemangat sekali. Apalagi kalau untuk
urusan bola.
Jam pelajaran
terakhir adalah sehabis istirahat ashar. Aku dan kawan kawan bolos dengan menaiki
tembok tinggi di belakang sekolah. Setinggi apapun temboknya, masih kurang
tinggi dengan semangat bolos kami. Hehe. Makanya, sangatlah mudah untuk kami
melewatinya. Setelah itu kita berhenti persis di halte bis beberapa ratus meter
dari sekolah. Bukan untuk naik bis, namun naik mobil pick-up yang biasanya
lewat. “Numpang ya mas..” seru Rusdi kepada sopir pick-up yang jelas berhenti
setelah Made dengan beraninya memberhentikan secara paksa mobil itu - dengan
berdiri di tengah jalan. Walaupun menggerutu, pasti mas sopir memperbolehkan.
Mungkin dia ingat dulu masa mudanya juga berkelakuan 11 12 seperti kami. Hehe.
Sekitar pukul
setengah 5 sore kami semua sudah sampai di tempat futsal indoor langganan kami.
Setelah menunggu giliran hampir setengah jam, kami semua sudah bisa bermain. Tadi
kami patungan membayar sewa lapangan untuk 2 jam kedepan. Walaupun membayar itu
tadi sama dengan mengurangi uang jajan kami, namun semua itu sebanding dengan
kucuran keringat dan tawa yang meledak ketika kami semua berkumpul untuk
bermain bola. Aku sangat menyukai momen momen seperti ini.
Tawaku berhenti
ketika kudengar nada dering handphoneku sedang menjerit jerit minta diangkat.
Kulihat di layar, ayahku.
“Halo,
Assalamualaikum. Kenapa yah ?” aku menjawab sekenanya dan dengan nada dingin.
Tak ada lagi sisa kesenangan atau tawa yang baru saja meledak ledak.
“Walaikumsalam,
Kamu dimana ri ? Sudah jam berapa ini! Tadi pagi ayah sudah me ngingatkanmu kan kalau jam setengah 7 kelas
di bimbingan belajar kamu dimulai”
“Ha ? Eh, ini Ari sudah di kelas kok yah.” Aku sama
sekali lupa. Bodohnya. Dan dengan tidak berfikir panjang aku berbohong pada
ayahku. Di kelas apanya ? orang aku masih di tempat futsal dengan seragam putih
abu ku yang lusuh karena keringat dan lututku yang lecet sedikit karna tadi
jatuh saat bermain.
“Di kelas mana ?!
Ayah tidak menyangka kamu akan berbohong. Barusan ayah sengaja telpon ketempat
bimbel mu. Mereka bilang kalau kamu alfa. Cepat pulang sekarang juga !!”
-Tutt-
Telpon langsung
ditutup bahkan sebelum aku sempat menjawab. Sial, pikirku. Bodohnya lagi kenapa
aku pakai acara berbohong. Dengan bergegas, aku mengambil tasku dan memakai
sepatuku. Aku berpamitan pada kawanku dan segera menuju pintu keluar tempat
futsal. Aku harus pulang cepat.
Saat ini, sekitar
pukul setengah 9 malam. Aku duduk di sofa dan ayahku duduk di kursi didepanku persis.
Dengan kedudukan kursi yang lebih tinggi daripada sofa, sangat memperlihatkan
keadaan saat ini. Aku seperti pesakitan yang siap menerima keputusan hukuman
seumur hidup dari hakim agung. Aku sangat tidak menyukai perasaan seperti ini.
Jari jari tanganku
saling bertemu dan bergerak tak tentu, menunjukkan penyesalan atas kebohonganku
beberapa jam lalu. Aku bukanlah tipe anak nakal yang suka membantah perkataan
orang tua dan berbuat onar diluaran rumah. Bisa dibilang aku sangat akrab
dengan ayahku bak temanku sendiri. Namun semua berubah ketika memang aku
-sebagai anak- mulai menunjukkan sikap tidak baik yang menurut ayahku –sebagai
orang tua- sikap itu bisa menjadi bibit bibit kurang ajar yang berujung
durhaka. Berlebihan ? mungkin. Tapi memang itu kenyatannya.
“Apa yang
seharusnya kamu katakan sekarang ? ” ayahku membuka percakapan. Dengan nada
datar yang tersirat kemarahan didalamnya.
“Maafkan aku yah, aku
tidak seharunya berbohong...” jawabku tersendat
“Apa aku pernah
mengajarkanmu berbohong ? aku sangat kecewa padamu. Semua ini kulakukan untuk
masa depanmu sendiri. Aku tahu kamu tadi bermain bola. Aku tidak akan
melarangmu untuk bermain. Aku tahu mimpimu. Tapi tolong kamu lakoni saja apa
yang ayah atur untukmu sekarang. Setidaknya untuk satu semester ini. ”
Aku diam. Ayah
merehat perkataannya sebentar. Dan dengan satu tarikan nafas agak panjang, ayah
melanjutkannya.
“Nilaimu sangat
memprihatinkan ar, ayah tidak ingin kamu tinggal kelas. Toh kamu tetap bisa
berlatih hari sabtu minggu. Dan senin sampai jumat fokuslah pada sekolahmu.
Ayah sadar, selama ini ayah tidak memperhatikanmu secara penuh. Ayah juga
terlalu berambisi pada sepak bola hingga mengesampingkan hal lain yang
sebenarnya adalah bekal untuk masa depanmu”
Aku tertunduk,
“Iya...yah” jawabku lirih. Selesai. Dengan jawabanku barusan bisa dibilang
masalah sudah tidak perlu dilanjutkan. Aku tak pernah ada niatan untuk
membantah. Walaupun ada perasaan kecewa berkecamuk di dadaku. Ayah pergi ke
kamarnya. Aku juga.
-------------
Satu semester ini
kuhabiskan dengan jadwal persis seperti yang ayah inginkan. Aku hanya bisa
berlatih sepak bola di hari sabtu dan minggu. Dan dengan berkurangnya waktuku bermain
bola, aku merasa kemampuanku juga jauh berkurang. Padahal seminggu lagi adalah
hari yang sudah kutunggu setahun ini. Pemilihan 10 pemain berbakat untuk
berkesempatan mendapatkan beasiswa belajar sepak bola di Manchester selama 2
bulan.
Hari seleksi itu
pun tiba. Aku berangkat bersama ayah ke Jakarta untuk hadir dan berpartisipasi
pada acara itu. Sangat tinggi harapanku untuk lolos. Mengingat bagaimana semua
orang mengelu-elukan permainanku yang katanya sangat mirip pemain pro. Walaupun
satu semester ini tidak secara maksimal aku berlatih, aku percaya pada bakatku.
Aku pasti lolos.
Namun apa mau
dikata, aku tidak lolos. Aku sangat bersedih dan merasa frustasi. Secara tidak
langsung aku menyalahkan ayahku atas kegagalanku. Seandainya aku berlatih dengan
giat, pasti aku lolos. Ayahku yang salah. Dia yang mengambil mimpiku.
Seandainya ayah tidak mengeluarkanku dari SSB, saat ini pasti aku sedang
tertawa bergembira atas keberhasilanku menjadi 10 pemain terpilih.
“Sudah ar, jangan
bersedih... kita bisa mencoba di kesempatan yang lain. Ayah dengar tahun depan
juga akan ada seleksi pemilihan pemain berbakat lagi” ayah membuka obrolan.
Saat ini kami di dalam kereta perjalanan pulang ke Malang.
“....” aku tidak
bereaksi apapun. Diam.
“Kenapa kamu diam ?
kamu harus tetap bersem....”
“Ayah harusnya
tahu, ini semua juga karena ayah !” belum selesai ayahku berbiacara, aku
langsung memotong. Aku merasa semua kekecewaan yang kupendam selama ini tidak
bisa lagi ditahan. Aku ingin meledak. Sambil berkaca kaca aku mulai meluapkan
kemarahanku.
Entah apa yang
kupikirkan saat itu. Kulihat ayahku hanya diam melihatku memberontak. Mungkin
dia kaget, anaknya yang selama ini diam, sekarang sedang mengamuk bak orang
kesetanan. Ayah benar benar diam tak berkata kata. Hingga keesokan harinya
ketika kami sampai, kami hanya 2 orang laki-laki, bapak dan anak, yang berjalan
dengan keheningan.
----------------
Sudah hampir 2
minggu sejak kejadian itu. Keadaan di rumah jadi aneh. Aku dan ayah menjadi
tidak seperti biasanya. Aku tidak lagi marah. Sudah reda lebih tepatnya. Tapi
aku bingung bagaimana memulai untuk berbicara baik baik lagi ke ayah.
Saat ini aku sedang
berada di barisan tengah jamaah sholat jum’at. Mendengarkan khutbah. Dan dari
situ aku merasa disentil. Aku mulai menerka, kembali intropeksi diriku dan merutunkan kejadian kejadian di kehidupanku
belakangan ini. Aku terus berfikir. Terus selama beberapa menit. Hingga aku
tersadar. Kenapa ayahku yang salah ? aku lah yang salah. Harusnya dengan
besarnya mimpiku, aku juga tidak boleh melupakan kewajibanku sebagai pelajar.
Apa salahnya ayahku memasukkanku kedalam lembaga bimbingan belajar. Aku sangat
egois.
Aku tertunduk,
sedikit meneteskan air mata. Mengingat bagaimana kata kata pedas yang kuucapkan
pada ayahku sewaktu di kereta. Bagaimana perasaannya melihatku seperti itu.
Pasti dia sangat sedih.
Jam pulang sekolah
berbunyi. Aku segera begegas pulang. Kupamiti Rusdi dan Mada. Mugkin mereka
heran. Tidak biasanya aku pulang cepat dan melewatkan sesi nongkrong di kantin.
Aku sedang tidak ingin melakukan apapun kecuali lari, pulang, menemui ayahku
dan meminta maaf.
Sesampainya di
rumah, aku mencari ayahku. Belum sempat aku berbicara, dia langsung memelukku
erat. “Selamat ar, selamat anakku. Anakku memang anak paling hebat. Ayah sangat
bangga kepadamu” .
Aku bingung.
“Kenapa yah? Apa yang terjadi?”
Ayah melepaskan
pelukannya. Kulihat ada setitik air di pelupuk matanya. “Kamu lolos seleksi
masuk U-17, jelasnya U-17 indonesia”
“Ha ? bagaimana
bisa yah? Kan aku tidak pernah ikut seleksinya” aku dengan kaget menjawab.
“Kamu ingat sewaktu
kamu seleksi beberapa minggu yang lalu ? ayah merekam permainanmu dan
mengirimkannya kepada pelatih U-17, ayah juga mencoba menghubungi beberapa
rekan ayah yang masih berada di jakarta. Mereka lah yang membantu kamu untuk
bisa di seleksi walaupun tanpa kamu hadir langsung dan hanya menggunakan
rekaman video ayah.”
“Minggu depan kita
ke Jakarta, untuk seleksi secara langsung. Tapi ayah yakin, 90% pasti kamu
diterima.”
Aku tidak bisa
berkata apapun. Hanya terkaget dan kemudian menangis penuh rasa syukur. Kalimat
maaf ku yang sepanjang perjalanan sekolah telah kususun sudah hilang entah
kemana. Bahkan tanpa permintaan maafku, ayah telah memaafkanku. Aku menangis
sesenggukan dan balik memeluk ayahku sangat erat. “Maafkan ari yah... ari
sayang ayah”. Kami berdua menangis.
Aku sangat
mencintai ayahku. Dengan segala kekurangannya dan mimpinya yang terkubur karena
lapangan hijau. Ayahku kehilangan fungsi kaki kanannya secara normal. Namun dia
tidak pernah melarangku untuk mengikuti jalannya sebagai pemain bola dan
meneruskan mimpinya. Ayahku adalah mimpiku. Sekarang mimpiku bukanlah menjadi
pemain sepak bola. Tapi aku akan menjadi anak paling berbakti pada ayahku. Itu
mimpiku.
-----------
Dan begitulah awal
mula mengapa aku terjun di dunia sepak bola dan menjadi striker utama Timnas
Indonesia. Semua berkat ayahku. Sekarang sudah 15 tahun sejak semuanya berawal.
Sangat menyenangkan mengingat masa muda. Dan kemarin lusa adalah peringatan
satu tahun tidak adanya ayah di dunia ini. Mungkin semua orang bisa bermimpi.
Namun tidak semuanya bisa mewujudkannya. Dan satu hal yang kuyakini dari dulu.
Jadikanlah mimpimu bukan hanya sebagai mimpi. Berdiri, maju, dan wujudkan.

0 komentar