Aku adalah seorang
remaja yang akhir tahun ini genap berusia 17 tahun. Mungkin tidak seperti kebanyakan remaja lain
yang setiap hari hanya bermain main dan tidak tahu mau jadi apa kelak, aku merasa
aku sangat pasti dengan apa tujuanku kedepannya. Yaitu menjadi seorang
pesepakbola.
Mengapa aku memiih
menjadi pesepakbola ? mimpi itu tidak muncul dengan sendirinya. Ayahku yang mantan
pemain sepakbola-lah yang menuntunku menuju mimpi itu. Ayahku yang membuatku
sudah berteman dengan lapangan hijau bahkan sejak aku belum fasih berbicara. Kecintaanku
pada sepak bola tidak bisa kugambarkan lebih dalam lagi. Sepak bola bukan
sekedar olahraga bagiku.
“Ari..bangun...
sudah jam 5 pagi, ayo ikut ayah lari pagi”
Begitulah, hampir
setiap hari ayahku membangunkanku sekedar untuk lari pagi. Kesannya dia
mengajakku lari pagi bersama, padahal kenyataannya hanya aku yang lari. Dia
bilang aku perlu menjaga staminaku agar tidak mudah loyo di pertandingan. Dan
begitulah kegiatanku setiap pagi dimulai, sebelum aku beranjak pergi sekolah.
Di sekolah, aku
termasuk murid yang populer dan dikenali. Bukannya terlalu percaya diri. Tapi
memang kenyataan. Aku menjadi populer juga karena sepak bola. Aku striker
andalan tim sepak bola sekolahku yang sudah terbukti membawa sekolah tercintaku
ini menyabet juara di berbagai pertandingan sepak bola maupun futsal. Dan
karena itulah, teman-temanku sangat mengandalkanku. Dan jangan lupakan
keberadaan adik tingkat yang sering diam diam mengirim surat cinta di lokerku
atau sekedar melirikku dan berbisik girang ketika aku lewat.
Menurutku hidupku
selama 17 tahun sudah sempurna, semua berkat sepak bola. Hingga hadirlah hari
itu. Hari dimana mungkin bisa dibilang bahwa sepak bola tidak bisa membantuku
sama sekali.
